Bismillahirrohmanirrohim
Tampilkan postingan dengan label Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al-Ghozali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al-Ghozali. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 Juni 2015
Keutamaan Bulan Ramadhan
Allah swt. berfirman:
ﻳَٰٓﺄَﻳُّﻬَﺎ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮا۟ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ٱﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻛَﻤَﺎ ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻰ ٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa, (Al-Baqarah - 2: 183)
Diriwayatkan dari Sa'id bin Ja'bir ra. bahwa puasa orang-orang sebelum kita adalah mulai dari 'utman (mulai masuk shalat isya') sampai kepada malam berikutnya, sebagaimana yang telah terjadi pada permulaan Islam. Segolongan ahli ilmu mengatakan, sesungguhnya puasa itu merupakan suatu kewajiban atas orang-orang Nasrani. Terkadang puasa itu terjadi pada musim yang sangat panas, dan kadang-kadang tepat pada waktu musim dingin. Yang demikian itu sangat memberatkan bagi mereka, terutama bagi mereka yang menempuh berpergian, atau memberatkan pada sebagian usaha dalam mencari penghidupan mereka.
Oleh sebab itu, maka para pembesaran mereka berkumpul untuk menentukan masa puasa mereka, dan mereka menjadikan waktu puasa itu antara musim dingin dan musim panas, maka puasa itu mereka tetapkan pada waktu musim semi, dengan menambah sepuluh hari sebagai kafaratnya atas apa yang telah mereka perbuat. Kemudian ada seorang raja di antara mereka mengadukan sakitnya, demi untuk kesembuhan dari sakitnya dia menghendaki agar puasa itu ditambah seminggu, maka ditambahlah puasa itu satu minggu. Dan ia menjadi sembuh. Setelah ia mati, maka kekuasaan dipegang oleh seorang raja yang lain, dia berkata: "Sempurnakanlah puasa itu menjadi lima puluh hari." Kemudian mereka ditimpa kematian, yaitu kematian ternak merajalela. Raja berkata kepada mereka: "Tambahkanlah puasa Anda." Lalu mereka menambah sepuluh hari, bahkan mereka menambah lagi sepuluh hari setelah itu. Dikatakan: "Tidak ada satu umat pun, malainkan mereka di wajibkan puasa Ramadhan, hanya saja mereka kemudian menjadi tersesat dari puasa Ramadhan itu."
Al-Baghawi berkata: "Yang shahih bahwa Ramadhan itu adalah nama sebuah bulan dari kata ramdha', yaitu batu yang terbakar, karena memang mereka berpuasa pada waktu yang sangat panas. Sebab ketika orang Arab ingin meletakkan nama-nama bulan, bertepatan sekali, bahwa bulan tersebut (Ramadhan) tepat pada musim yang sangat panas." Dan dikatakan: "Disebut begitu karena dia membakar beberapa dosa." Puasa Ramadhan diwajibkan pada tahun kedua Hijriah. Dia merupakan hal yang diketahui dalam agama secara pasti, dan orang akan menjadi kafir bila menentang kewajibannya.
Hadis-hadis yang menerangkan tentang keutamaannya sangat banyak, di antaranya sabda Nabi saw: "Apabila datang malam pertama dari bulan Ramadhan, semua pintu-pintu surga dibuka, selama satu bulan penuh tidak satupun ada pintu surga yang di tutup. Dan Allah swt. memerintahkan pemanggil untuk menganjurkan: "Wahai orang-orang yang mencari kebaikan, menghadaplah. Wahai orang yang mencari kejahatan, tahanlah." Lalu dia berkata: "Adakah seorang yang memohon ampun, tentu ia akan diampuni. Adakah orang yang meminta, tentu dia akan dikabulkan permintaannya. Adakah orang yang bertobat, tentu akan diterima tobatnya." Dia tidak henti-hentinya berkata begitu sampai fajar terbit, waktu shubuh tiba. Setiap malam hari pada saat berbuka Allah membebaskan sejuta orang dari neraka, yang sebelumnya wajib disiksa.
Salman Al-Farisi ra. Berkata, sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah dihadapan kami pada hari terakhir dari bulan Sya'ban: "Wahai sekalian manusia, benar-benar telah menaungi Anda sebuah bulan yang besar. Didalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih utama daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai fardhu dan berdiri beribadah shalat malam sebagai sunnah (shalat tarawih). Barangsiapa yang menunaikan sebuah fardhu, maka dia seperti orang yang menunaikan tujuh puluh fardhu pada bulan yang lain.
Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedang kesabaran pahalanya surga. Dia adalah bulan pertolongan. Dia adalah bulan penambahan rizki seorang mukmin. Barangsiapa yang memberi buka seorang yang berpuasa, maka baginya sama dengan pahala memerdekakan budak yang telah terampuni dosanya. Kami berkata: "Ya Rasulullah, kami ini tidak menemukan sesuatu yang dapat digunakan untuk memberi buka orang yang berpuasa." Beliau bersabda: "Allah memberikab pahala pada orang yang memberi buka puasa walau dengan sedikit susu, seteguk air atau sebutir kurma. Dan barangsiapa yang membuat kenyang orang yang berpuasa, dia akan diampuni dosa-dosanya dan Tuhan akan memberi minum dari telagaku. Dia tidak akan merasa haus sesudah minum dari telagaku itu, untuk selama-lamanya. Disamping itu, mereka mendapat pahala semisal pahala orang yang berpuasa tanpa berkurang sedikitpun.
Ramadhan adalah bulan, awalnya penuh dengan rahmat, pertengahan penuh ampunan dan terakhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa yang memberi keringanan pada budak yang dimilikinya, maka Allah akan memerdekakannya dari neraka. Oleh sebab itu, pada bulan Ramadhan, perbanyaklah empat hal. Dua hal, membuat Anda mendapatkan ridha Allah, dan dua hal lagi yang selalu Anda butuhkan. Dua hal yang membuat Allah ridha pada Anda adalah kesaksian, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan, kecuali Allah dan Anda memohon ampun kepada-Nya. Sedangkan dua hal yang selalu Anda butuhkan adalah meminta surga kepada Tuhanmu dan berlindung kepada-Nya dari neraka."
Diantara hadis yang menerangkan keutamaannya lagi adalah sabda Nabi Muhammad SAW.: "Barangsiapa yang berpuasa bulan Ramadhan dengan iman dan ikhlas karena Allah, maka diampuni dosa-dosanya baik yang lalu maupun yang akan datang."
Sabda Nabi Muhammad SAW.: "Setiap amal anak cucu Adam adalah bagiannya, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." Dia (Allah) melarang Anda untuk menyandarkan hal-hal lain pada Dzat-Nya ketika Anda beribadah pada Tuhan Pencipta lagi Maha Mulia.
Diantara keutamaan bulan Ramadhan yang lain, sebagaimana sabda Nabi saw.: "Umatku diberi lima hal yang tidak diberikan pada umat manapun sebelum mereka. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misi, malaikat-malaikat memintakan ampun untuk mereka, sampai mereka berbuka, setan-setan terlaknat dibelenggu. Allah swt. menghias surga setiap hari dan berfirman: "Hampir saja hamba-hamba-Ku yang saleh dihalangi dari segala kesusahan dan penderitaan. Dan mereka diampuni di akhir malam harinya." Ditanyakan: "Ya Rasulullah, apakah dia itu adalah malam Lailatul Qadar?" Beliau bersabda: "Tidak, tetapi setiap orang yang beramal akan dipenuhi pahalanya apabila dia telah selesai melakukannya."
Selasa, 26 Mei 2015
Keutamaan bulan Sya'ban
Bulan ini dinamakan dengan Sya'ban karena bulan itu memiliki beberapa cabang kebaikan yang sangat banyak. Sya'ban diambil dari kata Asy-Syi'bi, yang berarti thariiqul jabali (jalan gunung atau jalan yang menanjak naik), yaitu jalan kebaikan.
Diriwayatkan dari Abi Ummah Al-Bahili ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda:
إذا دخل شعبان فطهر وا أنفسكم وأحسنوا نيتكم فيه
- Artinya:
- "Apabila bulan Sya'ban telah masuk (datang), sucikanlah jiwa Anda dan perbaikilah niat Anda dalam bulan itu."
Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah saw. berpuasa, sehingga kami mengatakan apakah beliau tidak berbuka, lalu beliau berbuka. Dan sehingga kami mengatakan kapan beliau tidak berpuasa, lalu beliau tidak berpuasa. Adalah beliau paling banyak berpuasa di bulan Sya'ban (selain bulan Ramadhan).
Kemudian beliau kembali bersujud dan aku mendengar beliau bersabda (berdo'a): "Aku berlindung dengan ridha-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan ampunan-Mu dari siksa-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian terhadap-Mu, sebagaimana Engkau memuji pada Dzat-Mu sendiri." Aku berkata, sebagaimana yang dikatakan oleh saudaraku Dawud: "Aku membenamkan wajahku dalam debu (bersujud) untuk Sayidku dengan yang sebenar-benarnya buat Sayidku, agar Ia memberikan ampunan."
Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan aku berkata: "Demi bapak dan ibuku, sebagai tebusan Anda, Anda dalam sebuah lembah, dan aku juga dalam suatu lembah." Beliau bersabda: "Ya Humaira' (panggilan Aisyah), bukankah engkau mengetahui, sesungguhnya Allah Azza wa-Jalla pada malam ini membebaskan manusia sebanyak bulu domba, kecuali enam golongan, yaitu peminum khamar, orang yang durhaka pada kedua orang tua, pezina, orang yang bermusuhan, tukang pukul, dan pengadu domba."
Sabtu, 04 April 2015
Taat Dan Cinta Kepada Allah dan Rasul-Nya
Allah swt. Berfirman:
ﻗُﻞْ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﻓَﭑﺗَّﺒِﻌُﻮﻧِﻰ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮﺑَﻜُﻢْ ۗ ﻭَﭐﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَّﺣِﻴﻢ
Artinya:
"Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran:31)
Ketahuilah, semoga Allah merahmati Anda, sesungguhnya cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah mentaati dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan cinta Allah kepada hamba-hambaNya ialah dengan memberikan anugerah dan ampunan kepada mereka.
Dikatakan, apabila seorang hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tidak lain hanyalah milik Allah swt., sementara apa yang dilihatnya sempurna baik dari darinya sendiri maupun dari orang lain adalah dari Allah dan atas pertolongan Allah semata, tentu cintanya tidak lain hanyalah untuk Allah dan karena Allah. Yang demikian itu akan memotivasi dirinya untuk berbakti kepada Allah dan mencintai apa yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh sebab itu, dia lalu memfokuskan cintanya untuk taat dan senantiasa mengikuti tradisi Rasulullah saw. baik dalam beribadah maupun dalam menyerukan kepada ketaatan.
Diriwayatkan dari Hasan bahwa orang-orang pada zaman Rasulullah saw. berkata: "Ya Muhammad, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang cinta kepada Tuhan kami." Lalu Allah menurunkan ayat tersebut kepada Nabi saw. Bisyr Al-Hafi ra. Berkata: "Saya bermimpi melihat Nabi saw. Beliau bersabda: "Ya Bisyr, tahukah Anda dengan sebab apa Allah mengangkat derajat Anda melebihi atas teman-teman Anda?' Aku berkata: 'Tidak, ya Rasulullah.' Beliau bersabda: 'sabab hidmat Anda kepada orang-orang shaleh dan sebab nasehat serta kecintaan Anda kepada teman-teman dan sahabat-sahabat Anda, juga sebab Anda berpegang teguh pada sunnahku dan mengikutinya.
Nabi saw. Bersabda:
من أحيا سنتي فقد أحبني ومن أحبني كان معى يوم القيامة فى الجنة
Artinya:
"Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka berarti ia cinta kepadaku, dam barangsiapa yang cinta kepadaku, maka pada hari kiamat ia berada di dalam surga bersamaku."
Di dalam beberapa atsar yang masyhur disebutkan bahwa orang yang berpegang teguh pada sunnah Rasulullah saw. Ketika manusia mengalami kerusakan dan terjadinya berbagai aliran, maka ia mendapatkan padahal seperti pahala seratus orang mati syahid. Demikian sebagaimana dijelaskan di dalam Syir'atul Islam.
Nabi saw. Bersabda: "Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan." Mereka bertanya: "Siapakah orang yang enggan itu?" Beliau bersabda: "Barangsiapa yang taat kepadaku, dia masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, dia masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, dialah orang yang enggan (menolak masuk surga). Setiap perbuatan yang bukan sunnahku, merupakan perbuatan maksiat. Sebagian Ulama berkata, bahwa seandainya Anda mengetahui seorang syekh yang dapat terbang di udara dan berjalan di atas lautan atau memakan api atau kesaksian yang lainnya, tetapi ia meninggalkan satu perbuatan fardhu diantara fardhu-fardhu yang telah ditetapkan Allah, atau meninggalkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku dengan sengaja, maka ketahuilah bahwa dia adalah seorang pendusta dalam pengakuannya. Kesaktian yang dimilikinya itu, bukanlah sebagai karamah, melainkan sebagai istidraj. Na'udzu billahi min dzaalik.
Junaid berkata: "Seorang tidak dapat sampai kepada Allah swt. kecuali atas pertolongan-Nya. Sedangkan jalan untuk dapat sampai kepada Allah swt. ialah dengan mengikuti Nabi Al-Mushtofa, Muhammad saw." Ahmad Hawary rahimahullah berkata: "Setiap amal yang tanpa didasarkan mengikuti sunnah Rasulullah saw. adalah batil."
Di dalam Syir'atul Islam disebutkan bahwa Nabi saw. Bersabda: "Barangsiapa yang menyia-nyiakan sunnahku, maka haram atasnya syafa'atku."
Ada seorang laki-laki dari sebagian orang-orang gila yang dianggap bodoh, lalu hal itu diceritakan kepada Ma'ruf Al-Karkhi. Mendengar penuturan itu, Ma'ruf tersenyum dan berkata: "Wahai saudaraku, ia memang gila, kegilaannya ada yang masih kecil dan ada pula yang telah mencapai tingkat besar, mereka orang-orang berakal tetapi gila. Demikianlah yang saya lihat mengenai kegilaan-kegilaan mereka."
Diceritakan dari Junaid, ia berkata: "Guru kami As-Sari jatuh sakit, tetapi kami tidak mengetahui obat bagi penyakitnya dan tidak pula tahu sebabnya. Seorang tabib yang cerdas memberikan penjelasan kepada kami dan meminta agar kami mengambil sebotol air (kencing) dari guru kami. Tabib itu lalu melihat air dalam botol dan mengamatinya. Kemudian ia berkata: "Saya melihat ini merupakan air seni dari orang yang ditimpa kerinduan." Junaid berkata: "Mengetahui hasil pengamatan itu aku langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri, hingga botol yang ada di tanganku terjatuh. Setelah sadar aku kembali kepada guru As-Sari dan menceritakan padanya. Ia tersenyum dan berkata: "Semoga Allah membunuhnya, alangkah tajamnya penglihatan Tabib itu." Aku berkata: "Wahai guru, apakah kecintaan dapat dilihat dari air kencing?" "Ya benar," Jawab guru.
Fudhail rahimahullah berkata: "Apabila ditanyakan kepada Anda, apakah Anda cinta kepada Allah, maka diamlah. Karena jika Anda berkata tidak, maka Anda kafir, tetapi jika Anda berkata ya, maka berarti Anda tidak memiliki sifat dari orang-orang yang cinta. Takutlah Anda dari kemurkaan Allah swt."
Sufyan berkata: "Barangsiapa yang mencintai orang yang di cintai Allah, maka berarti ia cinta kepada Allah. Dan barangsiapa yang memuliakan orang yang memuliakan Allah, maka berarti ia memuliakan Allah swt."
Suhl berkata: "Cinta Allah itu ada tanda-tandanya. Diantara tanda-tandanya ialah cinta Al-Qur’an. Tanda cinta Allah dan cinta Al-Qur’an ialah cinta Nabi saw. Tanda cinta Nabi saw. ialah mencintai sunnahnya, dan cinta sunnah adalah sebagian tanda cinta akhirat. Sedangkan tanda cinta akhirat adalah benci dunia, dan tanda benci dunia ialah tidak mengambil darinya kecuali sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan akhirat."
Abul Hasan Al-Zanjani berkata: "Pangkal ibadah terdiri dari tiga unsur, yaitu mata, hati dan lisan. Mata untuk mengambil ibrah, hati untuk merenung dan berpikir dan lisan untuk pembenaran, bertasbih dan berdzikir.
Sebagaimana firman Allah swt.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyediakan nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab: 41-42).
Di dalam kitab Raunaqul Majalis Diceritakan, suatu ketika Abdullah dan Ahmad bin Harb datang di suatu tempat. Ahmad bin Harb memangkas rumput yang tumbuh di bumi, lalu Abdullah berkata kepadanya: "Lima hal yang telah berhasil menguasai Anda, yaitu hati Anda sibuk dengan apa yang Anda lakukan sehingga lupa bertasbih kepada Tuhan; Nafsu Anda telah menyibukkan Anda dengan selain berdzikir kepada Allah; Anda telah menjadikan hal itu sebagai kebiasaan yang akan diikuti oleh orang lain; dan Anda telah menetapkan hal itu sebagai hujjah atas diri Anda di hadapan Allah kelak pada hari kiamat."
As-Sari berkata, saya melihat Al-jurjani makan sawit tanpa disertai dengan air. Lalu aku bertanya: "Mengapa Anda tidak makan dengan yang lain?" Dia menjawab: "Sesungguhnya saya telah menghitung waktu antara mengunyah dan meneguk air dapat di gunakan untuk bertasbih sebanyak tujuh kali. Oleh karenanya aku tidak melakukannya sejak empat puluh tahun yang lalu."
Adalah Sahl bin Abdillah, dia makan sekali dalam lima belas hari. Ketika bulan Ramadhan dia tidak makan kecuali hanya sekali makan. Bahkan dia pernah tahan tidak makan selama tujuh puluh hari. Ketika dia makan justru menjadi lemah dan ketika dia lapar menjadi kuat. Abu Hammad Al-Aswad pernah bersanding dengannya di dalam Masjidil Haram selama tiga puluh tahun, dan dia tidak pernah melihat Sahl makan dan minum dan tak pernah terlepas sesaatpun dari berdzikir kepada Allah swt.
Diceritakan, bahwa Amr bin Ubaid, tidak akan keluar dari rumahnya kecuali untuk tiga hal, yaitu untuk shalat berjama'ah, untuk menjenguk orang sakit dan menghadiri jenazah. Dia berkata: "Saya melihat manusia menjadi pencuri penyamun di jalan. Umur adalah permata indah yang tak ternilai harganya, maka hendaklah ia didaya fungsikan sebagai perbekalan di akhirat. Ketahuilah bahwa orang yang menghendaki kehidupan akhirat dia harus bersikap zuhud dalam kehidupannya di dunia agar tujuannya menjadi fokus pada satu tujuan. Tidak terjadi penyimpangan antara lahir dan batin, karena tidak mungkin memelihara suatu hal kecuali menyempurnakan secara lahir dan batin.
Diceritakan dari Ibrahim bin Hakim, ia berkata: "Apabila datang rasa kantuk menyerang ayahku, dia mencebur ke laut dan bertasbih sehingga ikan-ikan datang berkumpul di sisinya ikut bertasbih bersamanya."
Diceritakan, bahwa Wahab bin Manbah berdo'a kepada Allah agar menghilangkan tidur di malam hari dari dirinya. Doanya terkabul, dia tidak pernah tidur di malam hari selama 40 tahun.
Hasan Al-Hallaj mengikat dirinya mulai dari mata kaki sampai lututnya dengan tiga puluh ikatan. Dia melakukan shalat dalam kondisi seperti itu setiap sehari semalam Sebanyak seribu rakaat.
Adalah Junaid, ia datang ke pasar untuk bekerja, ia memulai pekerjaannya dengan membuka toko, setelah itu masuk ke dalam menggeraikan tirai penutup lalu melakukan shalat empat ratus rakaat, kemudian ia kembali pulang ke rumahnya.
Habsyi bin Dawud selama empat puluh tahun, ia melakukan shalat Shubuh dengan wudhu yang diambilnya di waktu shalat Isya'.
Karenanya bagi orang yang beriman seyogyanya senantiasa dalam keadaan suci. Ketika ia berhadats hendaklah segera bersuci dari hadats, lalu shalat dua raka'at, mengambil posisi menghadap kiblat dalam majlisnya, dan membayangkan dirinya sedang duduk di hadapan Rasulullah saw. dalam bermeditasi. Sehingga dalam setiap perbuatannya ia selalu melakukannya dengan penuh ketenangan dan kewibawaan, mampu menanggung sakit, tidak melakukan perlawanan terhadap yang berbuat jahat, tetapi memohonkan ampun terhadap orang yang berbuat jahat kepadanya. Tidak merasa bangga dengan diri sendiri dan amalnya. Karena membanggakan diri ( 'ujub ) merupakan sifat setan. Memandang dirinya dengan pandangan yang hina dan melihat orang-orang shaleh dengan pandangan kemuliaan dan keagungan. Barangsiapa tidak tahu hormat terhadap orang-orang shaleh maka Allah menghalanginya bersahabat dengan mereka. Dan barangsiapa yang tidak mengenal kemuliaan ketaatan, maka manisnya ketaatan itu akan dicabut dari hatinya.
Fudhail bin Ali ditanya: "Ya Aba Ali, kapan seseorang menjadi saleh?" Dia menjawab: "Apabila nasehat menjadi niatnya, takut (kepada Allah) senantiasa dalam hatinya, kebenaran ada dalam lidahnya dan amal saleh selalu menghiasi anggota tubuhnya."
Allah swt. berfirman kepada Nabi saw. ketika beliau Mi'raj: "Ya Ahmad, jika Anda ingin menjadi orang yang paling wira'i, maka zuhudlah di dunia dan Cintailah akhirat." Beliau bertanya: "Ya Illahi, bagaimana aku harus berlaku zuhud di dunia?" Allah swt. berfirman: "Ambillah dari kekayaan dunia ini, sekedar makan, minum, dan berpakaian. Janganlah Anda menimbun harta duniawi untuk hari esok dan berdzikirlah kepada Allah secara terus menerus." Beliau bertanya: "Ya Tuhanku, bagaimana aku harus berdzikir kepada-Mu secara terus menerus?" Allah swt. berfirman: "Dengan berkhalwat (menyepi) dari manusia, jadikanlah tidurmu sebagai shalat dan laparmu sebagai makan." Nabi saw. bersabda: "Berlaku zuhud di dunia akan mengistirahatkan (menenangkan) hati dan badan. Sedangkan rakus akan memperbanyak kesedihan dan kedudukan. Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan, sementara zuhud adalah pangkal dari segala kebaikan dan ketaatan."
Diceritakan, bahwa ada sebagian orang saleh berjalan dan bertemu dengan sekelompok orang mengerumuni seorang Tabib yang menerangkan tentang penyakit dan cara pengobatannya. Lalu orang saleh itu bertanya: "Wahai tuan tabib, apakah Anda dapat mengobati hati?" Tabib berkata: "Ya, terangkan padaku apa penyakitnya." Orang saleh berkata: "Dosa-dosa telah membuat hati menjadi hitam kelam, lalu menjadi keras membatu dan menyimpang." Tabib berkata: "Obatnya adalah merendahkan diri di hadapan Allah, tenggelam dalam beribadah, memohon ampun pada waktu tengah malam dan di penghujung siang, bersegera melakukan ketaatan kepada Tuhan Yang Mah Agung lagi Maha Pengampun dan mengajukan i'tidzar pada Tuhan Yang Maha Perkasa. Semua ini, merupakan terapi pengobatan dan penyembuhan penyakit hati melalui ilmu-ilmu secara gaib." Orang saleh itu menjadi berteriak histeris, menangis dan berlalu sambil berkata: "Anda adalah sebaik-baik tabib, Anda telah mengobati penyakit hatiku dengan tepat." Tabib berkata: "Ini adalah terapi pengobatan hati orang yang bertobat dan kembali dengan hatinya kepada Tuhan Yang Maha Penerima tobat.
Diceritakan, ada seorang laki-laki membeli budak yang masih berusia muda. Budak itu berkata kepadanya: "Wahai tuanku, saya sanggup menjadi budak pelayan Anda, tetapi aku ingin mengajukan tiga syarat. Yaitu, tuan jangan menghalangi aku untuk melakukan shalat wajib bila telah datang waktunya; Silahkan tuan memerintahkan apa saja yang tuan kehendaki di siang hari, tetapi janganlah tuan memerintahkan sesuatupun kepadaku di malam hari; Aku minta tuan menyediakan tempat (kamar) khusus di rumah tuan buatku dan tak boleh dimasuki siapapun selain aku." Tuannya berkata: "Baiklah, syarat Anda itu aku penuhi." Laki-laki itu berkata: "Sekarang silahkan Anda melihat-lihat kamar-kamar di rumah ini." Budaknya lalu berkeliling melihat-lihat mencari tempat yang cocok buat dirinya, akhirnya dia menemukan sebuah kamar kosong yang tidak terawat. Lalu ia berkata: "Saya memilih kamar ini." Tuannya berkata: "Wahai budak muda, mengapa Anda memilih kamar yang tak terurus itu?" Budaknya berkata: "Wahai tuanku, tidakkah tuan tahu bahwa sesuatu yang tak terurus itu akan menjadi taman yang indah bersama Allah." Selanjutnya, budak itu melayani tuannya di siang hari dan di malam hari ia menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah swt. Ketika si budak tengah beribadah sebagaimana yang biasa ia lakukan setiap malam, tiba-tiba tuannya suatu malam berkeliling mengitari rumahnya, ketika melihat kamar itu penuh dengan cahaya, sementara si budak tengah bersujud yang di atasnya terdapat pelita yang menggelantung cahayanya tembus ke langit. Si budak tengah asyik bermunajat kepada Tuhannya dengan penuh tadharru', dia berkata: "Ya Illahi, aku mempunyai kewajiban untuk melayani tuanku dan itu aku lakukan di siang hari. Andaikan hal itu tidak ada, tentu aku tidak melakukan kesibukan baik di malam hari maupun di siang hari, kecuali hanya untuk berhidmat kepada-Mu, oleh karenanya terimalah alasanku ini, ya Tuhan. Sementara tuannya terpaku terus memperhatikan budaknya, sehingga pagi hari tiba dan pelita pelita yang di atas budaknya itu kembali serta atap rumahnya menjadi tertutup lagi. Tuan budak itu lalu pergi meninggalkannya dan menceritakan peristiwa yang disaksikan kepada istrinya.
Ketika malam kedua tiba, sang tuan memegang tangan istrinya dan membimbingnya berjalan mengendap-endap mendekati pintu kamar budaknya. Sesampainya di depan kamar budaknya, ia mendapati budaknya dalam keadaan bersujud dan di atasnya terdapat pelita yang bersinar tembus ke langit. Keduanya terpaku berdiri menyaksikan pemandangan yang begitu indah, tak terasa air mata keduanya meleleh membasahi pipi, dan pagi pun tiba. Kemudian sang tuan memanggil si budak dan berkata: "Anda merdeka karena Allah swt. agar Anda dapat tenggelam dalam beribadah kepada-Nya. Bukankah Anda telah mengajukan alasan itu kepada-Nya." Si budak lalu menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berkata:
"Wahai Tuhanku yang menguasai semua rahasia, sesungguhnya rahasiaku telah terbongkar; Saya tidak menginginkan hidup lagi setelah rahasia ini tersiar."
"Kemudian ia berkat: "Ya Illahi, aku mohon kematian." Setelah mengucapkan itu seketika dia roboh dan mati. Demikianlah kondisi orang-orang saleh yang memendam kerinduan kepada Tuhan di dalam hatinya yang amat dalam dan orang-orang yang menempuh jalan Tuhan.
Didalam kitab Zahrur Riyadh diterangkan, bahwa Nabi Musa as. mempunyai seorang teman setia yang sangat disayangi. Pada suatu hari ia berkata: "Wahai Nabi Musa berdo'alah kepada Allah agar menganugerahkan kepadaku untuk dapat mengetahui-Nya dengan yang sebenar-benarnya." Lalu Nabi Musa berdo'a untuknya dan do'anya terkabul. Akhirnya Nabi Musa kehilangan teman sejatinya itu, karena ia pergi ke gunung berteman dengan binatang-binatang liar. Karena merasa kehilangan teman sejatinya, maka Nabi Musa berdo'a kepada Allah: "Ya Tuhanku, teman setiaku, meninggalkan aku raib entah kemana." Lalu dikatakan kepada Musa: "Wahai Musa, orang yang benar-benar mengetahui (ma'rifat) kepada-Ku, ia tidak akan bergaul dengan makhluk untuk selamanya."
Disebutkan dalam Akhbar (hadist-hadist), bahwa Nabi Yahya dan Nabi Isa, suatu ketika berjalan-jalan di pasar, lalu seorang perempuan menabraknya. Nabi Yahya berkata: "Sungguh aku tidak merasakan apa-apa dari hal itu." Nabi Isa berkata: "Subhanallah, badan Anda bersamaku, tetapi hati Anda di mana?" Nabi Yahya menjawab: "Wahai putra bibi, seandainya hatiku bisa tenang dengan yang selain Tuhanku sekejap saja, tentu aku mengira bahwa aku bukanlah orang yang mengenal Allah, Tuhanku." Dikatakan, bahwa ma'rifat yang sebenar-benarnya ialah dengan melepaskan dunia dan akhirat lalu mengosongkan dan merendam dirinya pada Allah semata, lalu dia menjadi mabuk setelah minum air kecintaan dan dia tidak akan sembuh kecuali dengan melihat-Nya dan menyaksikan dirinya benar-benar terendam dalam lautan cahaya Tuhan.
Kamis, 19 Maret 2015
RINDU
Al-hubb (cinta) berarti kecenderungan tabi'at terhadap sesuatu yang dirasakan nyaman. Jika kecenderungan itu begitu kuat, maka ia dinamakan kerinduan. Dalam kondisi rindu, seorang sanggup menjadi budak bagi yang dicintai dan dirindukannya itu dan sudi menginfakkan apa yang dimiliki karenanya. Tidakkah Anda tentang Zulaikha, demi cintanya dia rela kehilangan semua harta yang dimilikinya bahkan kecantikannya. Zulaikha adalah seorang wanita yang kaya raya, memiliki mutiara emas permata dan kalung sebanyak berat muatan tujuh puluh unta. Dia rela menginfakkan semuanya demi cintanya pada Yusuf. Setiap orang berkata yang berkata kepadanya: " Suatu hari aku melihat Yusuf." Maka Zulaikha memberinya satu kalung yang dapat membuatnya kaya raya. Hingga tak tersisa sedikitpun dari mutiara dan perhiasannya tersebut. Karena cinta dan kerinduannya yang begitu dalam kepada Yusuf dia menamakan segala sesuatu dengan nama Yusuf. Dia tidak ingat apapun selain Yusuf. Ketika dia mengangkat wajahnya ke langit, yang dia lihat hanyalah nama Yusuf yang terukir indah pada binatang-binatang.
Dalam suatu riwayat disebutkan setelah Zulaikha beriman dan dinikahi oleh Yusuf as. dia selalu menyendiri menghindar dari Yusuf dan menyepi untuk beribadah. Dia benar-benar tenggelam dalam keasyikan beribadah kepada Allah swt. Ketika Yusuf mengajaknya ke tempat tidur ia menepis dan menyanggupinya di malam hari. Dan ketika Yusuf mengajaknya di malam hari, ia menundanya hingga siang hari. Zulaikha berkata: "Wahai Yusuf, sebelum mengenal Allah, saya hanya cinta kepadamu, tetapi setelah aku mengenal-Nya, maka cintaku kepada-Nya tak menyisakan buat mencintai yang lain dan aku menginginkan cintaku kepada-Nya, tak digantikan oleh selain yang selain-Nya." sampai pada suatu saat, Yusuf berkata kepadanya: "Sesungguhnya Allah swt. memerintahkan kepadaku untuk melakukan hal itu (berhubungan badan) dengan Anda. Dia mengabarkan kepadaku, bahwa Dia akan mengeluarkan dua orang anak dari (melalui) Anda yang akan Dia jadikan sebagai Nabi." Zulaikha berkata: "jika memang Allah yang memerintahkan untuk melakukan hal itu dan menjadikan aku sebagai jalan untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka berarti hal itu sebuah ketaatan terhadap perintah Allah, mak silahkan Anda melakukannya." Dengan demikian maka Zulaikha menjadi tenang dalam dekapan Yusuf as.
Diceritakan, bahwa ketika ditanyakan kepada Majnun Laila: "Siapa nama Anda?" Dia menjawab: "Laila." Suatu hari ketika ditanyakan kepadanya: "Bukankah Laila telah mati?" Dia menjawab: "Sesungguhnya Laila telah bersemayam di dalam hatiku, dia tidak mati." Pada suatu hari, ia berjalan di depan rumah Laila, tetapi ia melihat ke langit, lalu dikatakan kepadanya: "Wahai Majnun, janganlah Anda memandang ke langit, tetapi pandanglah rumah Laila, barangkali Anda akan melihatnya." Dia menjawab: "Cukuplah bagiku memandang binatang yang pantulan cahayanya jatuh menerpa rumah Laila."
Diceritakan, tentang Manshur Al-Hallaj rahimahullah yang ditahan oleh orang-orang selama delapan belas hari, lalu Asy-Syubali datang kepadanya dan berkata: "Wahai Manshur, apakah mahabbah (cinta) itu?" Dia menjawab: "Janganlah Anda bertanya kepadaku hari ini, tetapi bertanyalah kepadaku esok hari." Ketika pagi hari tiba, dan orang-orang telah mengeluarkannya dari penjara hendak membunuhnya, Syubali berjalan dihadapannya. Lalu Manshur memanggil: "Ya Syubali, cinta di awalnya adalah kebakaran dan akhirnya adalah pembunuhan."
Hal itu mengisyaratkan bahwa betapa telah benar-benar menjadi nyata dalam pandangan Al-Hallaj, sesungguhnya segala sesuatu selain Allah adalah bathil. Dia benar-benar tahu dan yakin bahwa hanya Allah-lah yang haq, sehingga ketika nama Tuhan Yang Haq itu tertanam dalam dirinya, dia menjadi lupa akan dirinya sendiri. Oleh sebab itu ketika dia ditanya: "Siapa Anda?" Dia menjawab: "Saya Al-Haq."
Diriwayatkan bahwa bukti kebenaran cinta itu ada pada tiga hal, yaitu:
* Dia akan memilih perkataan (kalam) kekasihnya daripada perkataan yang lain.
* Dia akan memilih duduk dalam satu majlis bersama kekasihnya daripada di majlis lain.
* Dia memilih keridhaan kekasihnya daripada keridhaan yang lain.
Dikatakan, bahwa al-'isyq (kerinduan) mampu merobohkan dinding-dinding pemisah dan membuka rahasia-rahasia. Sedangkan wujud merupakan kelemahan ruh untuk memikul beban kerinduan, ketika manisnya zikir itu benar-benar dapat diwujudkan. Sehingga ketika berada dalam kondisi hubungan yang begitu intens itu, seandainya salah satu anggota tubuhnya dipotong, maka dia tidak akan terasa dan tidak pula mengetahuinya.
Diceritakan, bahwa ada seorang laki-laki ketika sedang mandi di sungai Furat, di mendengar suara seorang lelaki membaca ayat:
ﻭَﭐﻣْﺘَٰﺰُﻭﺍ۟ ﭐﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﭐﻟْﻤُﺠْﺮِﻣُﻮﻥ
Artinya:
"Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir): berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat."(QS. Yaa Siin: 59).
Pada saat mendengar lantunan ayat tersebut kondisinya menjadi tergoncang, tak sadarkan diri, lalu tenggelam dan mati. Diceritakan dari Muhammad bin Abdullah Al-Baghdadi, dia berkata: "Saya melihat seorang pemuda di Bashrah, yang berada di puncak ketinggian. Semua mata tertuju menatap kepadanya. Pemuda itu berkata: 'orang yang mati dalam kerinduan, maka hendaklah ia mati seperti ini. Tiada kebaikan dalam kerinduan tanpa kematian.' Kemudian dia menjatuhkan dirinya dan mati."
Diceritakan, bahwa Dzun Nun Al-Mishri ketika masuk ke dalam Masjidil Haram, ia melihat seorang pemuda telanjang yang terbuang dan sakit tergeletak di bawah suatu tiang, hatinya merintih pedih. Dzun Nun berkata: "Saya mendekatinya dan mengucapkan salam padanya, lalu bertanya: "Siapa Anda, hati anak muda?" Ia menjawab: "Saya adalah orang asing yang dilanda kerinduan." Setelah saya mengetahui dan memahami apa yang dikatakan, saya berkata: "Saya adalah orang yang seperti Anda." Kemudian ia menangis dan akupun menangis karena tangisannya." Mengetahui aku menangis dia bertanya: "Mengapa Anda menangis?" Saya menjawab: "Saya adalah orang seperti Anda." dia menangis dengan suara yang sangat keras. Lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir kali (mati) pada saat itu juga aku menutupinya dengan bajuku, kemudian pergi meninggalkannya untuk mencari kain kafan. Setelah aku membeli kain kafan, aku segera kembali padanya di tempat semula, tetapi aku tidak mendapatinya. Aku berkata: "Maha Suci Allah (subhanallah)." Tiba-tiba aku mendengar suara tanpa rupa (panggilan rabbani): "Wahai Dzun Nun, sesungguhnya pemuda asing itu, adalah orang yang dicari-cari setan di dunia, tetapi tidak menemukannya. Malaikat Malik juga mencarinya, tetapi ia tidak melihatnya. Malaikat Ridhwan mencarinya di dalam surga, tetapi tidak menemukannya." Aku berkata: "Kalau begitu, dia di mana?" Dzun Nun berkata: "Kemudian aku mendengar suara lagi: "Di tempat yang disenanginya, yaitu di sisi Tuhan Yang Maha Berkuasa." (QS. Al-Qamar: 55). Sebab kecintaannya, banyaknya ketaatan dam kesegeraannya bertobat. Demikian sebagaimana dijelaskan di dalam kitab Zahrur Riyadh.
Sebagian para Syeikh ketika ditanya tentang cinta, ia menjawab: "Sedikit bergaul, banyak berkhalwat (menyepi), selalu melakukan perenungan dan berpikir sekalipun secara lahiriah terlihat diam. Dia tidak melihat ketika dipandang, tidak mendengar ketika dipanggil, tidak paham ketika diajak bicara, tidak bersedih ketika ditimpa musibah, bahkan ketika ditimpa kelaparan dia tidak mengerti. Dia telanjang tetapi tidak merasa, dia mencaci maki tetapi tidak takut. Dia melihat kepada Allah dalam berkhalwat dan merasa damai di sisi-Nya, dia bermunajat kepada-Nya dan tak ikut berebutan dengan orang-orang yang ambisius dalam urusan keduniaan mereka."
Abu Tawwab An-Nakhasyi berkata tentang tanda-tanda cinta, sebagaimana yang terbuang dalam bait-bait syair berikut ini:
"Janganlah sekali-kali Anda tertipu bagi seorang kekasih memiliki tanda-tanda; dia memiliki beberapa sarana dan sangat ringan mengulurkan tangannya buat menyambut sang kekasih.
Dia merasa nikmat menerima cobaan dari sang kekasih; dan senantiasa melakukan apa yang menyenangkan kekasihnya.
Penolakan sang kekasih baginya adalah sebuah pemberian yang terkabulkan; kefakiran menjadi sebuah kemuliaan dan merupakan kebaikan yang disegerakan.
Di antara tanda-tandanya lagi, Anda akan melihat bahwa seluruh tujuannya adalah buat ketaatan sang kekasih, sekalipun ia banyak dikecam.
Termasuk tanda-tandanya juga, dia selalu terlihat tersenyum; sekalipun di dalam hatinya ditimpa kepahitan oleh sang kekasih.
Di antara tanda-tandanya, dia terlihat selalu ingin paham perkataan orang yang memberikan pengabulan terhadap orang yang meminta.
Dan termasuk tanda-tandanya, dia selalu hidup bersahaja, dan menjaga segala hal yang diucapkan."
Ada sebuah hikayat, pada suatu ketika Nabi Isa as. berjalan bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menyirami kebun, lalu pemuda itu berkata kepada Nabi Isa: "Wahai Nabi Isa, mohonlah kepada Tuhan Anda agar menganugerahkan kepadaku cinta kepada-Nya seberat dzarrah (atom)." Nabi Isa berkata: "Anda tidak akan mampu menanggung mahabbah seberat dzarrah ." Pemuda itu berkata: "Kalau begitu, separuh dzarrah saja." Lalu Nabi Isa as. Berdo'a: "Ya Tuhanku, anugerahkan kepada pemuda itu separuh dzarrah dari kecintaan-Mu." Setelah berdo'a, Nabi Isa pergi berlalu. Waktu pun terus berjalan melaju, setelah beberapa lamanya, Nabi Isa melewati tempat pemuda yang didoakannya dan bertanya mengenai kondisinya. Orang-orang yang ditanya berkata: "Pemuda itu menjadi gila, ia pergi ke gunung." Maka Nabi Isa berdo'a kepada Allah agar diperlihatkan pada pemuda itu, dan Nabi Isa melihatnya berada di suatu gunung, berdiri di atas batu besar seorang diri, matanya menerawang menatap ke langit. Ketika Nabi Isa mengucapkan salam kepadanya, ia tak menjawabnya. Nabi Isa berkata: "Wahai pemuda, saya Nabi Isa." Lalu Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Isa as.: "Bagaimana mungkin orang yang di dalam hatinya terdapat separuh dzarrah dari kecintaan-Ku, dapat mendengar perkataan manusia. Demi keagungan dan kemuliaan-Ku, seandainya Anda memotongnya dengan gergaji, tentu ia tidak akan mengetahui akan hal itu."
Barangsiapa yang mengakui tiga hal, sementara ia tidak membersihkan diri dari tiga hal, maka ia adalah orang yang tertipu, yaitu:
Pertama: Orang yang mengaku merasakan manisnya berzikir kepada Allah, sementara ia mencintai dunia.
Kedua: Orang yang mengaku cinta keikhlasan dalam beramal, tetapi menginginkan agar manusia mengagungkan dan memuliakannya.
Ketiga: Orang yang mengaku cinta kepada Allah, sementara ia tidak memiliki keberanian untuk mengorbankan dirinya.
Rasulullah saw. Bersabda: "Akan datang suatu zaman pada umatku, mereka mencintai lima hal, tetapi melalaikan lima hal yang lain, yaitu: Mereka mencintai dunia, tetapi melalaikan akhirat; Mereka mencintai harta, tetapi melalaikan hisab; Mereka mencintai makhluk, tetapi melalaikan Al-Khaliq (Tuhan Yang Menciptakan); Mereka suka melakukan dosa, tetapi melalaikan tobat; Mereka mencintai (membangun) gedung-gedung, tetapi melalaikan (membangun) kubur."
Manshur bin Ammar berkata, menasehati seorang pemuda: "Wahai pemuda, janganlah Anda tertipu dengan masa muda Anda. Betapa banyaknya pemuda yang mengakhirkan bertobat dan memperpanjang angan-angan (thulul amal) dan tidak mengingat akan kematiannya. Dia berkata, aku akan bertobat besok atau besoknya lagi. Tiba-tiba datang malaikat maut, sementara ia dalam kelalaian bertobat, sehingga ia berada di dalam kubur dengan menanggung penyesalan yang teramat dalam. Harta tak lagi dapat memberikan manfaat baginya, tidak pula seorang hamba, anak, ayah, dan yidak juga seorang ibu. Sebagaimana firman Allah swt.
ﻳَﻮْﻡَ ﻟَﺎ ﻳَﻨﻔَﻊُ ﻣَﺎﻝٌ ﻭَﻟَﺎ ﺑَﻨُﻮﻥ # ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﺃَﺗَﻰ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﺑِﻘَﻠْﺐٍ
ﺳَﻠِﻴﻢ
Artinya:
"(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Ash-Shūraá: 88-89).
Ya Allah, anugerahkan kepada kami untuk bertobat sebelum mati, sadarkanlah kami ketika lalai, dan berilah kami manfaat dengan syafa'at Nabi kami, seorang Rasul yang terbaik di antara para Rasul.
Adalah menjadi sifat orang mukmin untuk segera bertobat pada hari dan saat itu juga, serta menyesali dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Menerima dengan penuh kerelaan, sekalipun hanya terbatas pada kebutuhan primernya saja dari kebutuhan hidupnya di dunia. Tidak sibuk dengan urusan dunia, tetapi ia selalu sibuk dengan melakukan amal akhirat dan beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan.
Ada sebuah hikayat, bahwa terdapat seorang laki-laki kikir lagi munafik bersumpah pada istrinya agar tidak melakukan sedekah sedikitpun. Bila ia tetap melakukannya, ia bersumpah akan menceraikannya. Pada suatu saat datanglah seorang peminta-minta mengetuk pintu rumahnya, seraya berkata: "Wahai penghuni rumah ini, dengan haq Allah, hendaklah Anda memberikan suatu sedekah kepadaku." perempuan penghuni rumah itu, lalu memberinya tiga potong roti. Orang munafik yang tak lain adalah suami dari wanita itu, memergoki si peminta yang membawa roti dan bertanya: "Siapa yang memberi Anda roti itu?" Dia menjawab: "Si wanita penghuni rumah itu telah memberikan roti ini padaku." Rumah yang disebutkan pengemis itu tak lain adalah rumahnya. Maka si Munafik itu segera masuk ke dalam rumah dan bertanya kepada istrinya: "Bukankah aku telah menyumpah Anda, agar tidak memberikan sesuatu kepada seorang pun." Wanita itu menjawab: "Saya memberikannya karena Allah Azza wa-Jalla. Laki-laki munafik itu lalu pergi untuk menyalakan tungku pembakaran hingga benar-benar panas. Kemudian ia berkata kepada istrinya: "Bangkit dan ceburkan diri Anda ke dalam tungku karena Allah." Wanita itu bangkit dan mengambil perhiasannya. Laki-laki munafik berkata: "Tinggalkan perhiasan itu." Wanita (istrinya) menjawab: Seorang kekasih tentu berhias buat kekasihnya, dan aku adalah orang yang akan mengunjungi kekasihku." Kemudian ia masuk ke dalam tungku yang telah panas membara, dan laki-laki munafik itu lalu menutupinya, kemudian pergi berlalu, setelah genap tiga hari si munafik datang dan membuka penutup tungku, betapa ia menjadi terperanjat, ketika melihat ternyata istrinya selamat atas kekuasaan dan pertolongan Allah. Ia terheran-heran menyaksikan keadaan itu, disaat ia termenung dalam keheranannya, tiba-tiba terdengar suara: "Sekarang Anda menjadi tahu, bahwa api tidak akan dapat membakar kekasih-Ku."
Diceritakan, bahwa Aisyah, istri Fir'aun merahasiakan imannya dari Fir'aun, suaminya. Ketika Fir'aun mengetahui tentang keimanannya, ia memerintahkan untuk menghukum dan menyiksanya. Lali mereka menyiksa Aisyah dengan berbagai macam siksaan. Fir'aun berkata: "Keluarlah dari agama barumu itu." Tetapi Aisyah tidak hendak murtad (keluar dari akidahnya). Kemudian Aisyah diikat pada suatu tonggak yang terpasang, lalu anggota-anggota tubuhnya dipukuli dan disiksa. "Lepaskan akidah dan keimananmu itu," Pintar Fir'aun. Aisyah berkata: "Anda dapat menyiksa tubuhku, tetapi hatikudalam pemeliharaan Tuhanku. Sekalipun Anda memotong dan mencincang tubuhku, hal itu tidak berarti apa-apa bagiku, bahkan akan semakin menambah cintaku pada Tuhanku."
Kemudian ketika Nabi Musa lewat di hadapan Aisyah, ia memanggil: "Wahai Musa, apakah Tuhanku ridha ataukah murka kepadaku?" Nabi Musa menjawab: "Wahai Aisyah, para malaikat di langit sedang menanti kedatangan Anda dengan penuh kerinduan. Allah bangga terhadap Anda, dan sampaikan apa yang Anda inginkan kepada-Nya, tentu Dia akan mengabulkan apa yang Anda inginkan." Lalu Aisyah memohon, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini:
ﺭَﺏِّ ﭐﺑْﻦِ ﻟِﻰ ﻋِﻨﺪَﻙَ ﺑَﻴْﺘًﺎ ﻓِﻰ ﭐﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﻧَﺠِّﻨِﻰ ﻣِﻦ ﻓِﺮْﻋَﻮْﻥَ ﻭَﻋَﻤَﻠِﻪِۦ ﻭَﻧَﺠِّﻨِﻰ ﻣِﻦَ ﭐﻟْﻘَﻮْﻡِ ﭐﻟﻈَّٰﻠِﻤِﻴﻦ
Artinya:
"Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (QS. At-tahrim: 11).
Salman ra. Berkata: "Aisyah, istri Fir'aun di siksa di bawah sengatan terik matahari. Ketika para penyiksa pergi meninggalkannya, para malaikat menaunginya dengan sayapnya dan ia melihat rumahnya di surga."
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Fir'aun menancapkan empat buah tonggak, lalu ia menelantangkan istrinya terbelenggu dan terikat pada tonggak-tonggak itu menindihnya dengan alat penggiling dengan dihadapkan pada matahari. Kemudian Aisyah menengadahkan wajahnya ke langit seraya memohon: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (QS. At-tahrim: 11)
Hasan berkata: "Lalu Allah menyelamatkannya dengan keselamatan yang paling mulia dan mengangkatnya ke syurga, ia pun makan dan minum dengan penuh kenikmatan." Hal tersebut merupakan bukti bahwa berlindung kepada Allah dan kembali kepadaNya memohon jalan keluar yang terbaik ketika menerima ujian dan bencana adalah menjadi tradisi bagi orang-orang shaleh dan orang-orang yang beriman.
Rabu, 04 Maret 2015
CINTA
Disebutkan bahwa ada seorang laki-laki melihat bentuk rupa yang sangat buruk di suatu hutan. Lalu ia bertanya kepadanya: "Siapakah Anda?" Ia menjawab: "Saya adalah bentuk amal Anda yang buruk." Laki-laki itu bertanya: "Apa yang dapat menyelamatkan dari Anda?" Ia menjawab: "Bershalawat kepada Nabi saw." Sebagaimana sabda Nabi saw.: "Bershalawat kepadaku sebagai cahaya yang menerangi shirat (jalan). Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jum'at delapan puluh kali, maka Allah mengampuni dosa-dosanya delapan puluh tahun."
Diceritakan, bahwa ada seorang laki-laki yang lupa tidak bershalawat kepada Nabi saw. lalu malam harinya ia bermimpi melihat Nabi saw. tetapi beliau tidak menoleh kepadanya. Laki-laki itu berkata: "Ya Rasulullah, apakah Anda marah kepadaku." Beliau menjawab: "Tidak?" "Lalu mengapa Anda tidak mau melihat kepadaku?" Tanya laki-laki itu lagi. Beliau menjawab: "Karena aku tidak mengenal Anda." Laki-laki itu berkata: "Bagaimana Anda tidak mengenal aku, padahal aku adalah seorang dari umat Anda. Para ulama telah meriwayatkan bahwa Anda lebih mengetahui umat Anda, daripada seorang ibu yang mengenali anaknya." Beliau menjawab: "Mereka itu benar, tetapi Anda tidak mengingat aku dengan membaca shalawat, sementara pengenalanku terhadap umatku adalah sesuai dengan kadar bacaan shalawat mereka kepadaku." Kemudian laki-laki terjaga dari tidurnya, lalu ia mewajibkan atas dirinya untuk bershalawat atas Nabi saw. setiap hari seratus kali. Dia selalu melakukan hal itu, sampai pada suatu hari ia bermimpi melihat Nabi saw. lagi. Tetapi kali ini beliau bersabda: "Sekarang saya kenal terhadap Anda dan akan memberikan syafa'at kepada Anda." Yakni, laki-laki itu, menjadi sangat cinta kepada Nabi saw.
Allah swt. Berfirman:
ﻗُﻞْ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﻓَﭑﺗَّﺒِﻌُﻮﻧِﻰ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮﺑَﻜُﻢْ ۗ ﻭَﭐﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَّﺣِﻴﻢ
Artinya:
"Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran: 31).
Sebab turunnya ayat tersebut ialah ketika Nabi saw. mengajak Ka'ab bin Asyraf dan teman-temannya pada Islam, mereka berkata: "Kami berada dalam kedudukan putra-putra Allah dan kami sangat cinta kepada Allah. Lalu Allah swt. berfirman kepada nabi-Nya, Muhammad saw. dengan menurunkan ayat tersebut.
Pengertian ayat: "Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku" Yakni, ikutilah agamaku, karena saya adalah Rasul Allah yang diutus untuk menyampaikan risalah-Nya kepada Anda semua, dan sebagai Hujjah-Nya atas kalian.
Ayat selanjutnya: "...niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran: 31). Cinta orang-orang mukmin kepada Allah, ialah kepatuhannyatalah menaati perintah-Nya, dan mengutamakan kebaktian dan mencari keridhaan-Nya. Sedangkan cinta Allah kepada orang-orang mukmin, ialah pujian Allah kepada mereka, pemberian pahala dan ampunan kepada mereka, serta penganugerahan nikmat, rahmat, pemeliharaan dan petunjuk kepada mereka.
Imam Al-Ghazaly berkata di dalam karya monumentalnya, Ihya' Ulumiddin sebagai berikut: "Barangsiapa yang mengakui empat hal tanpa disertai empat hal yang lain, maka dia adalah pendusta. Orang yang mengaku cinta surga, tetapi tidak melakukan ketaatan (kepada Allah), mak dia pendusta; Orang yang mengaku cinta Nabi saw. tetapi tidak cinta ulama dan orang-orang fakir, mak dia pendusta; Orang yang takut terhadap siksa neraka, tetapi dia tidak mau meninggalkan kemaksiatan, maka dia pendusta; Dan orang yang mengaku cinta kepada Allah swt. tetapi dia mengeluh sebab musibah yang menimpanya, maka dia pendusta."
Rabi'ah berkata dalam sya'ir berikut ini:
"Anda berlaku durhaka kepada Tuhan, tetapi Anda memperlihatkan kecintaan kepadanya; Demi umurku, bagiku hal itu sebagai suatu yang ganjil (aneh). Andai kecintaan Anda benar, tentu Anda mentaati-Nya; karena orang yang cinta akan selalu patuh pada yang dicintainya."
Ketika serombongan orang datang kepada Asy-Syubali. dia berkata: "Siapakah Anda semua ini?" Mereka menjawab: "Kami adalah para pecinta Anda, maka terimalah kami." Lalu Asy-Syubali menerima kemudian melempari mereka dengan batu. Maka mereka berlalu menjauhinya. Asy-Syubali berkata: "Mengapa Anda semua berlari dariku, jika Anda semua orang-orang yang mencintai aku, tentu tidak akan berlari karena ujian yang aku timpakan kepada Anda." Kemudian Asy-Syubali berkata: "Para pecinta (Allah) akan minum air mahabbah dari gelas air kecintaan sehingga bumi dan negeri menjadi sempit baginya, dia benar-benar ma'rifat kepada Allah, tenggelam dalam kebesaran dan bingung dalam kekuasaan-Nya. Mereka minum dengan gelas kecintaan-Nya, menyelam dalam lautan kerinduan kepada-Nya, damai dan nikmat dalan bermunajat kepada-Nya, kemudian dia bersyair:
* ذكرالمحبة يا مولاي اسكرني * * وهل رأيت محبا غير سكران *
"Mengingat kecintaan kepada-Mu, wahai Kekasihku membuatku mabuk kepayang; Apakah Anda mengetahui orang yang cinta tanpa dimabuk cinta."
Dikatakan, apabila seekor unta dimabuk cinta, dia tidak mau makan rumput selama empat puluh hari, dan apabila dibebankan di atasnya muatan yang berlipat dia tidak akan mau mengangkatnya, karena beban kecintaan yang menimpanya. Ketika luapan cinta memenuhi ruang hatinya, maka ia tidak mau makan dan tidak menghiraukan beban berat, karena kerinduannya untuk bertemu sang kekasih. Jika unta saja mau meninggalkan kesukaannya dan tidak memperdulikan berat beban bawaannya demi kekasih yang dicintanya, lalu bagaimana halnya dengan sikap Anda, sudihkah Anda meninggalkan kesenangan hawa nafsu yang diharamkan, demi kecintaan kepada Allah. Apakah Anda juga meninggalkan makan dam minum karena Allah, menanggung beban berat, demi Allah, Kekasih Anda? Jika Anda tidak melakukan sesuatupun dari kebajikan-kebajikan yang telah kami sebutkan, maka pengakuan kecintaan Anda kepada Allah itu, hanyalah sebuah nama tanpa makna yang substansial, yang tidak akan berguna di dunia dan di akhirat, serta tidak berguna di hadapan makhluk dan tidak pula di hadapan Sang Pencipta (Al-Khaliq).
Diriwayatkan dari Ali karramallaahu wajhahu, dia berkata: "Barangsiapa yang surga, tentu ia bersegera melakukan kebajikan-kebajikan. Barangsiapa yang takut pada neraka, tentu dia mencegah kesenangan-kesenangan hawa nafsunya, dan barangsiapa yang percaya pada kematian, tentunya menganggap hina kelezatan-kelezatan duniawi.
Adalah Ibrahim Al-Khawwash ketika ditanya tentang kecintaan, ia menjawab: "Yaitu, kesanggupan untuk menghancur leburkan keinginan hawa nafsu, membakar segala sifat dan kebutuhan akan kebedaan, lalu menenggelamkan diri ke dalam lautan petunjuk."
Minggu, 01 Maret 2015
TOBAT
Bertobat itu wajib bagi setiap muslim, laki-laki dan perempuan. Allah swt. berfirman:
ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺗُﻮﺑُﻮﺍ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮْﺑَﺔً ﻧَﺼُﻮﺣًﺎ
(التحريم: ٨)
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya." (QS. At-tahrim: 8).
Perintah dalam ayat tersebut menunjukkan arti perintah wajib. Jadi bertobat menjadi sebuah kewajiban bagi orang yang beriman. Allah swt. juga berfirman:
ﻭَلا ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ۟ ﻛَﭑﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻧَﺴُﻮﺍ۟ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﻓَﺄَﻧﺴَﻬُﻢْ ﺃَﻧﻔُﺴَﻬُﻢْ ۚ ﺃُﻭ۟ﻟَٰٓﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﭐﻟْﻔَٰﺴِﻘُﻮﻥ
(الحشر: ١٩)
Artinya:
"Dan janganlah seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyr:19).
Maksud dari, "Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah." Yakni, mereka lupa dengan janji yang telah mereka ikrarkan kepada Allah, dan membuang ajaran kitab suci Allah di belakang punggung mereka.
Ayat selanjutnya: "Lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri." Yakni, Allah menjadikan mereka lupa dengan kondisinya sendiri, sehingga mereka tidak dapat mencegah diri dan tidak pula mampu mengemukakan kebaikan buat diri mereka sendiri.
Nabi saw. bersabda:
ﻣَﻦْ ﺃَﺣَﺐَّ ﻟِﻘَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺣَﺐَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻘَﺎﺀﻩُ ﻭَﻣَﻦْ ﻛَﺮِﻩَ ﻟِﻘَﺎﺀَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺮِﻩَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻘَﺎﺀﻩ
Artinya:
"Barangsiapa yang cinta (suka) bertemu pada Allah, maka Allah juga suka bertemu dengannya. Barangsiapa yang benci (tidak suka) bertemu Allah, maka Allah benci bertemu dengannya." (HR. Bukhari 6142).
Sedangkan maksud dari, "Mereka itulah orang-orang yang fasik." Yakni, orang-orang yang durhaka, yang merusak perjanjian mereka. Mereka keluar dari jalan hidayah (petunjuk), rahmat danmaghfirah (ampunan).
Orang-orang fasik itu ada dua macam, yaitu fasik kafir dan fasik fajir. Fasik kafir ialah orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, keluar dari hidayah dan masuk ke dalam kesesatan. Allah swt. berfirman: "...maka ia mendurhakai perintah Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 50). Yakni, keluar dari taat perintah pada Tuhannya dengan keimanannya, (sehingga ia menjadi orang yang fasik dan kafir). Sedangkan fasik fajir ialah orang yang meminum khamar, makan yang haram, berzina, melakukan kemaksiatan kepada Allah, keluar dari jalan ibadah dan masuk ke dalam kemaksiatan, tetapi tidak musyrik.
Perbedaan antara keduanya ialah, fasik kafir tak dapat diharapkan untuk mendapatkan ampunan, kecuali dengan mengucapkan syahadat dia bertobat sebelum kematiannya. Sementara fasik fajir ialah orang fasik yang masih dapat diharapkan mendapatkan ampunan dengan jalan bertobat dan melakukan penyesalan atas kesalahannya sebelum kematian datang menjemputnya. Setiap kemaksiatan yang bersumber dari hawa nafsu dapat diharapkan ampunannya. Sedangkan setiap kemaksiatan yang bersumber dari kesombongan, maka tak dapat diharapkan pengampunannya. Kemaksiatan iblis adalah berasal dari kesombongan. Anda seharusnya bertobat dari dosa-dosa Anda sebelum mati, dengan penuh harapan agar kiranya Allah swt. berkenan mengampuni dosa-dosa Anda.
Allah swt. berfirman:
ﻭَﻫُﻮَ ﭐﻟَّﺬِﻯ ﻳَﻘْﺒَﻞُ ﭐﻟﺘَّﻮْﺑَﺔَ ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِۦ ﻭَﻳَﻌْﻔُﻮﺍ۟ ﻋَﻦِ ﭐﻟﺴَّﻴِّـَٔﺎﺕِ ﻭَﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﻥ
(الشورى: ٢٥)
Artinya:
"Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Ash-Shūraá: 25).
Yakni, Allah memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah mereka perbuat dengan menerima tobat mereka. Nabi saw. bersabda: "Orang yang bertobat dari dosa, seperti orang yang tidak memiliki dosa."
Diceritakan, bahwa ada seorang laki-laki ketika melakukan dosa, ia selalu mencatat dosanya di dalam buku harian. Pada suatu hari ia melakukan suatu dosa, lalu membuka-buka buku hariannya untuk mencatat dosa yang baru saja di lakukan itu. Tetapi ia tidak menemukan sesuatupun di dalamnya kecuali firman Allah swt.: "... Maka mereka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan: 70).
Yakni, Allah mengganti tempat kemusyrikan dengan keimanan, tempat zina dengan ampunan dan mengganti tempat kemaksiatan dengan keterjagaan dam ketaatan.
Diceritakan, bahwa suatu ketika Umar bin Khattab berjalan melewati suatu jalan kota Madinah, lalu ia berhadapan (berpas-pasan) dengan seorang pemuda membawa botol yang di sembunyikan di balik bajunya. Umar ra. bertanya: "Hai pemuda, apa yang Anda bawa di balik baju Anda itu?" Botol yang berada di balik bajunya itu berisi khamar. Dan pemuda itu malu untuk mengatakan di hadapan Umar bahwa botol itu berisi khamar. Di dalam hatinya ia berkata: "Ya Illahi, janganlah Engkau permalukan aku di hadapan Umar, janganlah Engkau membuka rahasiaku yang membuat aku malu dan tutupilah rahasiaku ini, aku berjanji tidak akan minum khamar lagi untuk selama-lamanya." Kemudian pemuda itu berkata: "Wahai Amirul Mukminin, botol yang aku bawa ini berisi cuka." Umar berkata: "Cobalah perlihatkan kepadaku, agar aku bisa melihatnya." Lalu pemuda itu membukanya di hadapan Umar dan ternyata khamar dalam botol itu berubah menjadi cuka sehingga Umar benar-benar melihat cuka di dalam botol itu. Renungkanlah, betapa ada seorang makhluk (pemuda) bertobat karena takut kepada seorang makhluk (Umar), lalu Allah benar-benar mengganti khamar dengan cuka. Hal itu terjadi karena Allah benar-benar mengetahui akan keikhlasan dan ketulusan tobat seorang pemuda tersebut. Apabila ada seorang ahli maksiat jatuh bangkrut alamul menghentikan perbuatan-perbuatannya yang merusak dan melakukan tobat dengan semurni-murninya serta menyesali dosa-dosanya, maka Allah akan mengganti khamar keburukan-keburukannya dengan cuka ketaatan.
Disebutkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa pada suatu malam setelah aku selesai melakukan shalat Isya' bersama Rasulullah di akhir waktu, aku keluar dan bertemu seorang perempuan di suatu jalan, ia bertanya kepadaku: "Wahai Abu Hurairah, aku telah melakukan dosa, apakah masih ada kesempatan buatku bertobat dan di terima tobatku?" Aku bertanya kepadanya: "Apakah dosa Anda itu?" Perempuan itu menjawab: "Aku telah berzina dan membunuh anakku dari hasil perzinaan itu." Aku (Abu Hurairah) berkata kepadanya: "Anda telah celaka dan melakukan perbuatan yang mencelakakan, demi Allah tidak ada tobat bagi Anda." Mendengar jawabanku tersebut, perempuan itu jatuh pingsan. Aku terus berlalu meninggalkannya, sambil berkata dalam hatiku. "Aku telah memberikan fatwa, sementara Rasulullah saw. berada di antara kami." Kemudian aku kembali menemui Rasulullah saw. dan menceritakan peristiwa tersebut kepada beliau. Beliau bersabda kepadaku: "Celaka Anda, Anda telah melakukan hal yang mencelakakan. Dimana persepsi dan sikap Anda mengenai firman Allah swt.:
ﻭَﭐﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻟَﺎ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﻣَﻊَ ﭐﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻟَٰﻬًﺎ ﺀَﺍﺧَﺮَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﻘْﺘُﻠُﻮﻥَ ﭐﻟﻨَّﻔْﺲَ ﭐﻟَّﺘِﻰ ﺣَﺮَّﻡَ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﭑﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺰْﻧُﻮﻥَ ۚ ﻭَﻣَﻦ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻳَﻠْﻖَ ﺃَﺛَﺎﻣًﺎ (٦٨) ﻳُﻀَٰﻌَﻒْ ﻟَﻪُ ﭐﻟْﻌَﺬَﺍﺏُ ﻳَﻮْﻡَ ﭐﻟْﻘِﻴَٰﻤَﺔِ ﻭَﻳَﺨْﻠُﺪْ ﻓِﻴﻪِۦ ﻣُﻬَﺎﻧًﺎ (٦٩) ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦ ﺗَﺎﺏَ ﻭَﺀَﺍﻣَﻦَ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻠًﺎ ﺻَٰﻠِﺤًﺎ ﻓَﺄُﻭ۟ﻟَٰٓﺌِﻚَ ﻳُﺒَﺪِّﻝُ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﺳَﻴِّـَٔﺎﺗِﻬِﻢْ ﺣَﺴَﻨَٰﺖٍ ۗ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﭐﻟﻠَّﻪُ ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ ﺭَّﺣِﻴﻤًا
(الفرقان: ٦٨-٧٠)
Artinya:
"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Furqan: 68-70).
Maka aku segera pergi keluar kesan kemari mencari perempuan tersebut yang telah bertanya mengenai suatu masalah kepadaku. Aku bertanya kepada setiap orang yang aku jumpai agar memberitahukan mengenai keberadaan perempuan tersebut. Sehingga anak-anak berkata Abu Hurairah menjadi gila. Akhirnya aku dapat menemukan perempuan itu. Lalu aku sampaikan kepadanya apa yang dikatakan oleh Rasulullah mengenai permasalahannya. Dia menangis, karena merasa terharu dengan jawaban Rasulullah saw. dan berkata: "Saya memiliki suatu kebun, sekarang juga aku sedekahkan kebun itu untuk Allah dan Rasul-Nya."
Ada sebuah hikayat mengenai Utbah Al-Ghulam rahimahullahu ta'ala, dia adalah termasuk orang ahli melakukan kefasikan dam kemaksiatan. Utbah begitu populer sebagai orang yang bermoral rusak dan peminum khamar. Pada suatu hari ia masuk ke dalam majlis ta'lim Hasan Bashri. Pada saat itu Hasan Bashri sedang memberikan penjelasan mengenai penafsiran dari firman Allah swt.:
ﺃَﻟَﻢْ ﻳَﺄْﻥِ ﻟِﻠَّﺬِﻳﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮٓﺍ۟ ﺃَﻥ ﺗَﺨْﺸَﻊَ ﻗُﻠُﻮﺑُﻬُﻢْ ﻟِﺬِﻛْﺮِ ﭐﻟﻠَّﻪ
)الحديد: ١٦)
Artinya:
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah..." (QS. Al-Hadid: 16).
Yakni, Belumkah datang waktunya hati orang-orang yang beriman itu takut? Dalam memberikan penafsiran ayat ini, Syeikh Hasan Bashri memberikan nasehat yang begitu memukau dan menyentuh hati, sehingga orang-orang yang hadir di dalam majlis itu menjadi menangis. Di tengah-tengah keharusan suasana itu, seorang pemuda berkata: "Wahai orang yang bertakwa dari sekalian orang-orang mukmin, apakah Allah akan sudi menerima orang fasik dan berdosa seperti aku ini, jika aku bertobat?" Syeikh berkata: "Ya, Allah akan menerima tobat terhadap kefasikan dan kedurhakaan Anda." Ketika Utbah mendengar perkataan itu, wajahnya menjadi pucat, semua persendiannya menjadi tergetar dan gemertak, lalu ia menjerit histeris dan jatuh pingsan. Ketika ia tersadar, Hasan Bashri mendekatinya dan mengucapkan bait-bait syair berikut ini:
أيا شابالرب العرش عاص * أتدري مجازاع ذوي المعاصى
سعيرللعصاة لهازفير * وغيظ يوم يؤخذ بالنواصي
فإن تصبر على النيران فاعصه * وإلا كن عن العصيان قاضى
وفيما قد كسبت من الخطايا * رهنت النفس فاجهدبالخلاص
"Wahai pemuda yang bermaksiat kepada Tuhan pemilik Arasy; tahukah Anda apa balasan bagivorang yang maksiat.
Neraka Syair, menjadi tempat bagi orang yang maksiat, ia memiliki bunga api yang menyala-nyala dan kegeraman kemarahan pada hari ubun-ubun dipegang (tak dapat berkutik).
Jika Anda sabar terhadap siksaan neraka, maka silahkan bermaksiat kepada-Nya, tetapi jika tidak, maka jauhkan diri dari kemaksiatan.
Kesalahan-kesalahan yang telah Anda perbuat, berarti Anda telah menggadaikan diri Anda, maka bersungguh-sungguhlah untuk membebaskannya."
Mendengar lantaran syair dari Hasan Bashri itu, Utbah menjerit lagi dengan jeritan yang lebih keras, lalu jatuh pingsan. Setelah tersadar Utbah berkata: "Ya Syeikh, apakah Tuhan Yang Maha Penyayang akan menerima tobat orang yang hina dan tercela seperti saya ini?" Tidak ada yang dapat menerima tobat seorang hamba yang serong, kecuali Tuhan Yang Maha Pengampun. Kemudian Utbah mengangkat kepalanya tengadah ke langit seraya berdo'a akan tiga hal, yaitu:
Pertama: Ya Illahi, jika Engkau menerima tobatku dan mengampuni dosa-dosaku, maka muliakanlah aku dengan kemampuan untuk memahamidan menghafal sehingga aku dapat menghafal apa yang aku dengar dari ilmu dan Al-Qur’an.
Kedua: Ya Illahi, muliakanlah aku dengan memiliki suara yang merdu, sehingga setiap orang yang mendengar suaraku ketika aku membaca Al-Qur’an, hatinya menjadi lembut dan tersentuh, sekalipun hatinya keras dan membatu.
Ketiga: Ya Illahi, Muliakanlah aku dengan mendapatkan rizki yang halal dan anugerahilah aku rizki dari arah yang tak terduga-duga.
Allah swt. benar-benar mengabulkan permohonan itu, sehingga pemahaman dan hafalannya menjadi bertambah baik. Ketika ia membaca Al-Qur’an, maka setiap orang yang mendengarnya menjadi bertobat. Setiap hari di rumahnya selalu terhidang sepiring kuah dan buah roti, tanpa diketahui darimana datangnya dan siapa pula yang menghidangkannya. Dan hal ini, terus terjadi hingga ia berpisah dengan dunia (mati). Demikianlah, keadaan orang yang bertobat dan benar-benar kembali kepada jalan Tuhan. Sungguh Allah tak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan dengan sebaik-baiknya.
Sebagian Ulama ketika ditanya: "Apakah seorang hamba yang bertobat dapat di mengerti apakah tobatnya itu diterima atau tidak?" Dia menjawab: "Tidak ada kepastian mengenai hal itu, tetapi diterima atau tidaknya tobat itu dapat diketahui dari beberapa indikasi berikut ini:
➡ Orang yang tobatnya diterima, dia mengetahui dan merasakan bahwa dirinya menjadi terpelihara dan selalu terhindar dari kemaksiatan.
➡ Dia merasakan bahwa kegembiraan dan kesenangan akan kemaksiatan menjadi lenyap dari hatinya dan dia selalu merasa disaksikan oleh Tuhan.
➡ Dia menjadi senang berdekatan dengan orang yang ahli melakukan kebaikan dan menjauhi orang yang fasik.
➡ Dia melihat harta duniawi yang walaupun sedikit sebagai suatu yang banyak dan melihat amal akhirat yang begitu banyak sebagai sesuatu yang hanya sedikit.
➡ Hatinya selalu sibuk dengan hal-hal yang difardhukan oleh Allah atasnya.
➡ Dia menjadi orang yang senantiasa memelihara dan menjaga lidahnya.
➡ Dia senantiasa berfikir dan melakukan perenungan, menyesali kesalahan dan dosa-dosa yang pernah dilakukan.
Sabtu, 28 Februari 2015
LUPA KEPADA ALLAH, KEFASIKAN DAN KEMUNAFIKAN
Pada suatu ketika seorang wanita datang kepada Hasan Bashri ra. dan berkata: "Sesungguhnya anak perempuanku yang masih muda belia telah mati, aku menginginkan untuk dapat melihatnya di dalam tidur. Aku datang kepada Anda, agar kiranya Anda mengajarkan kepadaku sesuatu yang dapat aku jadikan perantara untuk dapat melihatnya." Maka Hasan Bashri mengajarkan sesuatu kepada wanita itu, sehingga ia benar-benar bermimpi melihat anak dalam keadaan terbelenggu.
Wanita itu menjadi bersedih karenanya, lalu ia menceritakan kepada Hasan Bashri. Setelah beberapa waktu berlalu dari kejadian itu, Hasan Bashri bermimpi melihat anak perempuan wanita tersebut, berada di dalam surga dan di atas kepalanya terdapat mahkota. Putri itu berkata kepada Hasan Bashri: "Wahai Hasan, tidakkah Anda mengenal aku? Aku adalah putri dari wanita yang dahulu pernah datang kepada Anda dengan mengatakan begini dan begini kepada Anda." Lalu Hasan Bashri bertanya kepadanya: "Apa yang bisa membuat Anda seperti yang saya lihat ini?" Putri itu menjawab: "Ada seorang laki-laki melewati kuburan kami, dia membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. sekali. Sementara di dalam kubur itu terdapat lima ratus lima puluh orang dalam keadaan tersiksa. Kemudian terdengar suara seruan: "Bebaskan mereka dari siksaan, berkat bacaan shalawat orang laki-laki itu."
FAEDAH: Dengan sebab bacaan shalawat seorang laki-laki tersebut, orang-orang yang tersiksa dalam alam kubur itu mendapatkan ampunan. Lalu bagaimana seandainya ada orang yang membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Selama lima puluh tahun, apakah dia tidak mendapatkan syafa'at beliau pada hari kiamat?
Allah swt. Berfirman:
ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ۟ ﻛَﭑﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻧَﺴُﻮﺍ۟ ﭐﻟﻠَّﻪَ
(الحشر: ١٩)
Artinya:
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah." (QS. Al-Hasyr: 19)
Maksudnya ialah janganlah Anda berbuat maksiat seperti perbuatan orang yang lupa kepada Allah swt. yaitu dengan meninggalkan perintah-Nya dan mengerjakan larangan-Nya, bersuka ria dalam pesta kesenangan kehidupan duniawi dan terperangkap oleh tipu dayanya.
Rasulullah saw. ketika ditanya tentang orang mukmin dan orang munafik, beliau bersabda: "Orang mukmin ialah orang yang tujuan hidupnya untuk shalat dan berpuasa. Sedangkan orang munafik ialah orang yang tujuan hidupnya untuk makan dan minum laksana binatang, meninggalkan ibadah dan shalat. Orang mukmin sibuk bersedekah dan mencari ampunan. Sementara orang yang munafik sibuk dengan kerakusannya dan panjangnya angan-angan yang berlarut-larut. Orang mukmin memutuskan harapan dari setiap orang kecuali kepada Allah swt. dan menawarkan hartanya demi kepentingan agama Allah. Sedangkan orang munafik, menawarkan agamanya demi kepentingan harta dunia. Orang mukmin merasa aman dari semua orang kecuali dari Allah swt. Sedangkan orang munafik gemar berbuat jahat dengan perasaan bangga dan gembira ria. Orang mukmin bertanam dan mengkhawatirkan akan kerusakannya. Sedangkan orang munafik merusak dan mencabuti (tanaman), namun ia berharap bisa memanen. Yang terakhir, orang mukmin memerintah dan melarang menurut ketentuan agama dan berusaha melakukan kebaikan. Sementara orang munafik memerintahkan dan melarang untuk kepentingan dan kepemimpinannya serta suka berbuat kerusakan. Bahkan orang munafik, memerintah yang munkar dan melarang yang ma'ruf."
Allah swt. Berfirman:
ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘَﺎﺕُ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺾٍ ﻳَﺄْﻣُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﻭَﻳَﻨْﻬَﻮْﻥَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻳَﻘْﺒِﻀُﻮﻥَ ﺃَﻳْﺪِﻳَﻬُﻢْ ﻧَﺴُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻓَﻨَﺴِﻴَﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘُﻮﻥَ (٦٧) ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘَﺎﺕِ ﻭَﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻧَﺎﺭَ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻫِﻲَ ﺣَﺴْﺒُﻬُﻢْ ﻭَﻟَﻌَﻨَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻣُﻘِﻴﻢ
(التوبة: ٦٧-٦٨)
Artinya:
"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal." (QS. At-Taubah: 67-68).
Allah swt. Berfirman:
ﺇِﻥَّ ﭐﻟﻠَّﻪَ ﺟَﺎﻣِﻊُ ﭐﻟْﻤُﻨَٰﻔِﻘِﻴﻦَ ﻭَﭐﻟْﻜَٰﻔِﺮِﻳﻦَ ﻓِﻰ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ
(النساء : ١٤٠)
Artinya:
"Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang fasik di dalam Jahannam." (QS. An-nisa': 140).
Yakni, yang demikian itu, apabila mereka mati dalam kekafiran dan kemunafikannya. Allah swt. mulai menyebutkan orang-orang munafik (di dalam ayat tersebut) karena lebih buruk dan lebih berbahaya daripada orang-orang kafir. Tetapi Allah swt. menjadikan neraka sebagai tempat bagi mereka semuanya.
Allah swt. Berfirman:
ﺇِﻥَّ ﭐﻟْﻤُﻨَٰﻔِﻘِﻴﻦَ ﻓِﻰ ﭐﻟﺪَّﺭْﻙِ ﭐﻟْﺄَﺳْﻔَﻞِ ﻣِﻦَ ﭐﻟﻨَّﺎﺭِ ﻭَﻟَﻦ ﺗَﺠِﺪَ ﻟَﻬُﻢْ ﻧَﺼِﻴﺮًﺍ
(النساء : ١٤٥)
Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka; dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." (QS. An-nisa' : 145).
Lafal munafik, diambil dari lafal nafiqa'ul yarbu' yang mengandung pengertian liang binatang sejenis tikus, tetapi kakinya lebih panjang dari tangannya, ekornya dan telinganya lebih panjang bila dibandingkan dengan tikus. Dijelaskan bahwa binatang yarbu' memiliki dua liang, liang yang satu disebut natiqa', sedangkan liang yang kedua disebut qashia'. Binatang itu dapat menampakkan diri dari liang yang satu dan keluar dari liang yang lain. Orang munafik biasa menampakkan dirinya seolah-olah sebagai orang muslim, tetapi sesungguhnya dia keluar dari Islam menuju kekafiran.
Disebutkan dalam sebuah hadits: "Sesungguhnya perumpamaan orang-orang munafik itu seperti seekor kambing yang Anda lihat berada di antara dua kelompok kawanan kambing. Suatu saat ia menuju pada kelompok yang ini, pada saat yang lain ia pergi ke arah kelompok yang lainnya. Kambing itu tidak menetap pada salah satu kelompok dari keduanya, sebab ia adalah kambing asing dan bukan merupakan bagian dari kelompok tersebut." Demikian pula halnya dengan orang munafik, dia tidak menetap sepenuhnya bersama kaum muslimin, juga tidak bersama orang-orang kafir.
Sesungguhnya Allah swt. menciptakan neraka memiliki tujuh pintu. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt: "Neraka Jahannam itu memiliki tujuh pintu." (QS. Al-Hijr: 44).
Pintu neraka berupa besi yang penuh dengan laknat. Bagian luarnya terdiri dari tembaga dan bagian dalamnya adalah timah. Dasarnya adalah siksaan dan atasnya adalah kemurkaan. sedangkan buminya adalah tembaga kaca, besi dan timah. Api meliputi penghuni neraka dari segala penjuru, dari atas, bawah, sisi kanan dan kiri mereka. Neraka itu bertingkat-tingkat dari yang terbatas dan yang terbawah. Allah menyediakan bagi orang-orang munafik di dalam tingkatan paling bawah yang merupakan tingkatan neraka yang paling pedih siksanya.
Dijelaskan dalam suatu hadis riwayat Anas bin Malik bahwa pada suatu ketika Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad saw. Beliau berkata: "Wahai Jibril, jelaskan padaku mengenai sifat dan panasnya neraka." Jibril berkata: "Sesungguhnya Allah menciptakan neraka, lalu menyalakan apinya selama seribu tahun, hingga berwarna merah. Kemudian Ia menyalakannya lagi selama seribu tahun hingga warnanya menjadi hitam pekat. Demi Tuhan yang mengutus Anda dengan haq sebagai Nabi, seandainya sebuah pakaian dari pakaian-pakaian penghuni neraka tampak oleh penghuni bumi dan dicelupkan ke dalam air di bumi, tentu semua manusia yang mencicipinya akan binasa dan mati."
Seandainya satu dzira' (hasta) dari rantai neraka, sebagaimana yang disebutkan Allah SWT. dalam firman-Nya: "Kemudian belitlah dia dengan rantai, yang panjangnya tujuh puluh dzira'." (QS. Al-Haqqah: 32).
Setiap satu dzira' dari rantai itu, panjangnya sejauh jarak antara ujung timur dari belahan dunia sampai pada bagian yang paling barat. Lalu seandainya satu dzira' itu diletakkan di atas gunung-gunung di dunia, tentu gunung-gunung itu akan hancur. Seandainya seorang laki-laki masuk neraka ke dalam neraka, lalu di keluarkan ke bumi, tentu seluruh penghuni bumi akan mati karena sengatan kebusukan baunya.
Rasulullah saw. bertanya kepada Jibril: "Ya Jibril, jelaskan kepadaku mengenai sifat-sifat pintu neraka Jahannam. Apakah pintu Jahannam itu, sebagaimana pintu-pintu kami di dunia ini?" Jibril berkata: "Tidak, ya Rasulullah, tetapi pintu Jahannam itu terdiri dari beberapa tingkat, sebagian lebih rendah dari sebagian yang lain. Jarak antara satu pintu dengan pintu yang lain, sejauh perjalanan tujuh puluh tahun. Setiap pintu yang lebih bawah satu tingkat dari atasnya derajat kepanasannya lebih dahsyat mencapai tujuh puluh kali lipat lebih panas."
Nabi saw. juga bertanya mengenai para penghuni dari setiap pintu-pintu neraka itu, lalu Malaikat Jibril menjawabnya sebagai berikut:
Pertama: "Orang-orang munafik berada di dalam tingkatan neraka yang paling bawah, yang bernama neraka Hawiyah. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt : "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." (QS. An-nisa': 145)
Kedua: Orang-orang musyrik berada di dalam tingkatan yang kedua, namanya ialah neraka Jahim.
Ketiga: Orang-orang dari golongan Sabi'in, berada di dalam tingkatan yang ke tiga, namanya ialah neraka Saqar.
Keempat: Iblis 'alaihil la'nah dan para pengikutnya dari golongan kaum Majusi berada di dalam tingkatan yang keempat, namanya ialah Lazha.
Kelima: Orang-orang Yahudi berada di dalam tingkatan yang kelima, namanya ialah neraka Huthamah.
Keenam: Orang-orang Nasrani berada di dalam tingkatan yang keenam, namanya ialah neraka Sa'ir.
Kemudian Malaikat Jibril diam tak melanjutkan mengenai penghuni neraka yang melalui pintu ke tujuh. Maka Nabi saw. bertanya: "Mengapa Anda tidak mengkhabarkan kepadaku mengenai penghuni pintu neraka yang ketujuh?" Malaikat Jibril menjawab: "Wahai Muhammad, janganlah Anda bertanya mengenai hal itu." Beliau berkata kepada Jibril: "Khabarkan kepadaku mengenai penghuni pintu yang ke tujuh itu." Lalu Jibril berkata kepada beliau: "Yang menjadi penghuni pada tingkatan yang ketujuh itu ialah orang-orang yang ahli melakukan dosa besar dari umatmu yang hingga mati belum bertobat."
Diriwayatkan, bahwa ketika diturunkan kepada Nabi saw. ayat dari firman Allah saw. berikut ini:
ﻭَﺇِﻥ ﻣِّﻨﻜُﻢْ ﺇِﻟَّﺎ ﻭَﺍﺭِﺩُﻫَﺎ ۚ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰٰ ﺭَﺑِّﻚَ ﺣَﺘْﻤًﺎ ﻣَّﻘْﻀِﻴًّﺎ
(مريم :٧١)
Artinya:
"Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu, Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan." (QS. Maryam: 71).
Rasulullah pingsan mendengar penjelasan Jibril tersebut. Jibril meletakan kepala Rasulullah di pangkuannya sampai Beliau sadar kembali.
Salman Al-Farisi datang dan berdiri di depan pintu seraya berkata: ”Assalaamu'alaikum, yaa ahla baitir rahmah, apakah saya bisa bertemu dengan junjunganku Rasulullah Saw.?" Namun tidak ada yang menjawab, sehingga meraka pun menangis dan terjatuh.
Rasulullah bersabda: "Betapa besar cobaan yang menimpaku dan aku merasa sangat sedih. Jadi, ada di antara umatku yang akan masuk neraka?" Jibril menjawab: "benar, yaitu umatmu yang mengerjakan dosa-dosa besar."
Kemudian Rasulullah saw. menangis, dan Jibril pun juga ikut menangis. Rasulullah Saw. lantas masuk ke rumahnya dan menyendiri. Beliau hanya keluar rumah jika hendak mengerjakan shalat dan tidak berbicara dengan siapa pun. Dalam shalat beliau menangis dan sangat merendahkan diri kepada Allah Ta’ala.
Pada hari yang ketiga, Abu Bakar r.a. datang ke rumah beliau dan mengucapkan: ”Assalaamu’alaikum, yaa ahla baitir rahmah, apakah saya bisa bertemu dengan Rasulullah SAW. ?” Namun tidak ada seorang pun yang menjawabnya, sehingga Abu Bakar menangis tersedu-sedu.
Umar r.a. datang dan berdiri di depan pintu seraya berkata: ”Assalaamu' alaikum, yaa ahlal baitir rahmah, apakah saya bisa bertemu dengan Rasulullah Saw.?" Namun tidak ada seorang pun yang menjawabnya, sehingga Umar lantas menangis tersedu-sedu.
Kemudian Salman bangkit dan mendatangi rumah Fathimah. Sambil berdiri di depan pintu ia berkata: "Assalaamu' alaikum, wahai putri Rasulullah Saw” sementara Ali r .a. sedang tidak ada di rumah. Salman lantas berkata: "Wahai putri Rasulullah Saw ., dalam beberapa hari ini Rasulullah Saw. suka menyendiri. Beliau tidak keluar rumah kecuali untuk shalat dan tidak pernah berkata-kata serta tidak mengizinkan seseorang untuk masuk ke rumah beliau." Fathimah lantas pergi ke rumah beliau (Rasulullah). Di depan pintu rumah Rasulullah Saw. Fathimah mengucapkan salam dan berkata: "Wahai Rasulullah, saya adalah Fathimah." Waktu itu Rasulullah Saw. sedang sujud sambil menangis, lantas mengangkat kepala dan bertanya: ”Ada apa wahai Fathimah, Aku sedang menyendiri. Bukakan pintu untuknya." Maka dibukakanlah pintu untuk Fathimah." Fathimah menangis sejadi-jadinya, karena melihat keadaan Rasulullah yang pucat pasi, tubuhnya tampak sangat lemah, mukanya sembab karena banyak menangis. Fathimah bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah yang sedang menimpa dirimu wahai ayahku?" Beliau bersabda: "Wahai Fathimah, Jibril datang kepadaku dan melukiskan keadaan neraka. Dia memberitahu kepadaku bahwa pada neraka yang teratas diperuntukkan bagi umatku yang mengerjakan dosa besar. Itulah yang menyebabkan aku menangis dan sangat sedih."
Orang yang arif (ma'rifat) kepada Allah, pada kekuasaan dan keperkasaan-Nya, tentu menjadi sangat takut Kepada-Nya, lalu menangis atas kecerobohan dan kelengahan dirinya, sebelum menyaksikan penderitaan dan kedahsyatan kehidupan akhirat yang amat menakutkan itu. Sebelum semua tirai penutup dirobek-robek lalu ia dihadapkan pada Yang Maha Penyiksa dan di perintahkan oleh-Nya agar masuk neraka. Berapa banyak orang tua berteriak memanggil-manggil di dalam neraka: "Aduh....uban-uban dan ketuaanku, betapa celakanya aku ini." Betapa banyak para pemuda berteriak memanggil-manggil di dalam neraka: "Aduh....masa mudaku." Betapa banyak wanita berteriak memanggil-manggil di dalam neraka: "Aduh....betapa hina dan sengsaranya aku."
Pada hari itu, semua tirai penutup aib menjadi hancur, wajah dan jasad mereka menjadi hitam pekat, punggung-punggung mereka menjadi patah dan remuk redam, yang tua tak lagi dimuliakan dan yang muda rak juga disayang. Rahasia dan aib para wanita pun tak lagi ditutupi.
Ya Allah, jauhkanlah kami dari neraka dam Selamatkanlah kami dari siksanya. Jauhkanlah kami dari perbuatan yang dapat mendekatkan kami kepada neraka, dan masuklah kami ke dalam surga bersama orang-orang yang baik dan mulia berkat rahmat dan anugerah-Mu, ya Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Pengampun. Ya Allah, Tutupilah aurat (rahasia) kami dan Selamatkanlah kami dari ketakutan yang amat sangat mencekam. Hindarkanlah kami dari kesalahan-kesalahan, dan janganlah Engkau mempermalukan kami di hadapan-Mu, ya Tuhan Yang Maha Penyayang diantara para penyayang. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada baginda Muhammad saw., para keluarga dan juga sahabat beliau.
Langganan:
Postingan (Atom)






